Sabtu, 08 Desember 2018

Antara Taqwa dan Tawakkal






Bismillahirrahmannirrahim

Allah subhanahu wa ta’alaa berfirman : “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thallaq : 2-3).

Taqwa dan Tawakkal

Seorang hamba sudah seharusnya mengetahui bahwa segala sesuatu terjadi dengan keputusan Allah. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang mendatangkan keburukan kecuali Dia, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya, tidak ada kesempatan menghindar dari kemaksiatan dan tidak ada kekuatan untuk meraih ketaatan kecuali dengan Allah.
Takwa, maka ia adalah upaya seorang hamba untuk meletakkan tameng antara dirinya dengan siksa Allah. Ada yang berkata, ia adalah melaksanakan perintah, meninggalkan larangan dan kerelaan terhadap takdir. Barangsiapa menghadirkan hal itu dalam hatinya, dan dia mengetahui tidak seorangpun memberinya manfaat atau menimpakan mudharat kecuali dengan izin Allah, maka tawakkalnya kepada Allah semakin meningkat, bahkan apabila ada yang dapat memberi manfaat dan mendatangkan mudharat secara independen selain Allah. Niscaya hamba tetap wajib berharap kepada Allah semata bukan kepada selain-Nya. Bagaimana tidak, sedangkan tidak ada satupun sebab yang bisa mewujudkan akibatnya secara independen, sebaliknya ia memerlukan sebab-sebab yang lain dan terangkatnya penghalang-penghalang darinya, dan itu semua hanya dapat terwujud dengan kodrat dan kehendak Allah saja.
Barangsiapa yang meyakini hal ini dengan kuat dalam hatinya, maka terbukalah pintu ma’rifat kepada Allah dan tawakkal kepada-Nya, di mana hal itu tidak akan terwujud selain dengan takwa.
Bila seorang hamba mengetahui bahwa segala sesuatu dari sisi Allah, maka dia harus mentauhidkan-Nya dengan rasa takut dan tawakkal. Allah ta’alaa berfirman : “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (An-Nur : 52).
Allah juga berfirman dalam surat yang lain : “Allah adalah Tuhan yang patut bagi kita untuk bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.” (Al-Muddatstsir : 56).
Setiap hamba harus menjaga diri dari beberapa hal, karena ia tidak mungkin hidup sendiri, sekalipun dia adalah seorang raja yang ditaati, dia tetap harus menjaga beberapa hal demi rakyatnya. Ini artinya setiap manusia harus menjaga diri, salah satunya menjaga diri dari makhluk, karena cinta dan benci seluruh makhluk tidaklah sama dan sejalan, karena yang diinginkan oleh fulan ternyata dibenci oleh fulan yang lain. Ini berarti membuat mereka semuanya ridho adalah tidak mungkin, atau bisa dibilang hal yang sulit. Sebagaimana Imam Asy-Syafi’i berkata : “Ridho manusia adalah tujuan yang tidak tergapai, maka perhatikanlah perkara yang membawa kemaslahatan bagimu, peganglah ia dan biarkan selainnya, tidak usah diperhatikan.” Mencari ridho seluruh makhluk adalah hal sulit, bahkan tidak mungkin dan juga tidaklah diperintahkan. Sedangkan mencari ridho Allah adalah sesuatu yang mungkin, dan sangat dianjurkan.
Disamping itu, makhluk tidaklah mampu menolong seorang hamba dari Allah sedikitpun. Bila seorang hamba bertakwa kepada Rabbnya, maka ia akan mencukupinya dari beban manusia, sebagaimana ‘Aisyah radiyallahu ‘anha menulis kepada Mu’awiyyah. Dan hal ini diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dan mauquf kepadanya. “Barangsiapa mencari ridho Allah dengan kemarahan manusia, maka Allah meridhoinya dan membuat manusia ridho kepadanya. Barangsiapa mencari ridho manusia dengan kemarahan Allah maka orang-orang yang memujinya akan berbalik mencelanya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. hadits 2414 dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Maka barangsiapa yang mencari ridho Allah, maka Allah akan mencukupinya dari beban manusia dan meridhoinya. Kemudian setelah itu manusia juga akan meridhoinya. Sebab akibat baik adalah untuk orang yang bertaqwa, Allah mencintainya maka manusia juga mencintainya, sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda : “Bila Allah mencintai seorang hamba maka Dia memanggi Jibrill, “Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia.” Maka Jibril mencintainya, kemudian memanggil malaikat-malaikat di langit, “Sesungguhnya Allah mencintai fulan,maka cintailah dia.” Maka penduduk langit mencintainya, kemudian orang tersebut diterima dimuka bumi.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap makhluk harus menjaga diri, menjaga diri dari makhluk lebih banyak manfaatnya dari berbagai segi, sedangkan takwa kepada Allah mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’alaa adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. Dia juga memperhatikan orang-orang yang memohon ampun, Dialah yang mengampuni dosa-dosa seorang hamba, dan tidak ada satupun makhluk yang mampu mengampuni dosa-dosa makhluk lain dan melindungi dari azab Allah, selain Allah. Dialah yang melindungi dan tidak dilindungi, sebagaimana perkataan seorang salaf. “Orang yang bertakwa selalu berkecukupan, karena Allah berfirman: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thallaq : 2-3).
Allah telah menjamin orang-orang yang bertakwa dan menjadikan bagi mereka jalan keluar dari kesempitan-kesempitan dunia yang diderita manusia. Memberi mereka rizki dari arah yang mereka tidak sangka. Bila semua janjinya ini tidak terwujud dalam kehidupan seorang muslim, maka hal itu membuktikan, takwanya patut dipertanyakan. Dan hendaknya ia memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Kemudian Allah ta’alaa berfirman : “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Ath-Thallaq : 3). Yakni Allah mencukupkan baginya dan ia tidak membutuhkan apa-apa selain Allah. Wallahu a’lam bish-showwaab.


---- IKLAN TENGAH ARTIKEL DISINI ----

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya