Selasa, 13 November 2018

Hukum Memandang Kemaluan Pasangan Dalam Berbagai Madzhab





Banyak diantara masyarakat yang masih kebingungan apa sih Hukum Memandang Kemaluan Pasangan Dalam Berbagai Madzhab? ada yang bberanggapan gak boleh lah, karena saling malu lah dan lain-lain. Trus pertanyaan kalok malu kenapa nikah?
Apakah boleh atau malah justru haram?
baca selengkapnya,,

Hukum Memandang Kemaluan Pasangan Dalam Berbagai Madzhab


عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيدَ ، عَنْ مَوْلًى لِعَائِشَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : مَا نَظَرْتُ ، أَوْ مَا رَأَيْتُ فَرْجَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ 
وسَلَّمَ قَطُّ.

Hadits yang disebutkan di atas adalah riwayat Ibnu Majah dalam kitab sunannya (662) dari Musa bin ‘Abdillah, dari bekas budak ‘Aisyah, dari ‘Aisyah bahwa beliau berkata, “Aku tidak pernah memandang atau melihat kemaluan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali. ”

 Hadits ini adalah hadits dho’if yang tidak bisa dijadikan hujjah karena perowi dari ‘Aisyah tidak diketahui siapa. Al Hafizh Ibnu Rajab dalam Fathul Bari (1: 336) mengatakan bahwa dalam sanad hadits ini adalah perowi yang tidak dikenal.

Syaikh Al Albani berkomentar tentang hadist diatas : Hadist Dhoif

Namun beberapa kalangan menjadikan hadist diatas dalil pendapat mereka dengan mengatakan haram melihat kemaluan pasangan.

Tentunya pendapat tersebut merupakan pendapat yang lemah dan pendapat yang rojih adalah bolehnya seorang suami melihat kemaluan istrinya atau sebaliknya, dalam banyak hadist disebutkan tentang kebolehannya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ بَيْنِي وَبَيْنَهُ وَاحِدٍ ، فَيُبَادِرُنِي حَتَّى أَقُولَ دَعْ لِي ، دَعْ لِي ، قَالَتْ: وَهُمَا جُنُبَانِ

“Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana antara aku dan beliau. Kemudian beliau bergegas-gegas denganku mengambil air, sampai ku mengatakan: tinggalkan air untukku, tinggalkan air untukku.” Ia berkata, “Mereka  berdua kala itu dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari no. 261 dan Muslim no. 321).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ad Daudi berdalil dengan dalil ini akan bolehnnya laki-laki memandang aurat istrinya dan sebaliknya.” (Fathul Bari, 1: 364)

Ibnu ‘Urwah al Hanbali rahimahullah berkata untuk mengomentari hadits di atas, “Dibolehkan bagi setiap pasangan suami istri untuk memandang seluruh tubuh pasangannya dan menyentuhnya hingga farji’ (kemaluan), bila ditinjau berdasarkan hadits ini. Karena farji’ istrinya adalah halal baginya untuk dinikmati, maka dibolehkan pula baginya untuk memandang dan menjamahnya seperti anggota tubuhnya yang lain.” [Lihat al-Kawaakib (579/29/1]. Para ulama sepakat akan bolehnya menyentuh kemaluan istri.

Juga dikuatkan lagi dengan hadits,

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

“Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2769, hasan). 

Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 32: 89)

Ibnu Hazm Azh Zhohiri berkata, “Halal bagi suami untuk memandang kemaluan istri dan hamba sahaya miliknya yang boleh ia setubuhi. Demikian pula istri dan hamba sahayanya tadi boleh memandang kemaluannya. Hal ini tidak dianggap makruh sama sekali. Di antara dalilnya adalah hadits yang masyhur dari jalan ‘Aisyah, Ummu Salamah, Maimunah yang kesemuanya adalah ummahatul mukminin (istri Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-). Di antara mereka pernah mandi junub bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. Yang aneh, mereka menghalalkan menyetubuhi istri di kemaluan, namun melarang dari memandang kemaluan.

Al-Hatthab rahimahullah berkata: “Telah diriwayatkan dari Imam Malik – rahimahullah - bahwasanya ia berkata, “Tidak mengapa melihat kemaluan tatkala berjimak”. Dan dalam riwayat yang lain ada tambahan, “Ia menjilat kemaluan istrinya dengan lidahnya”.Dan ini merupakan bentuk mubalaghoh (sekedar penekanan) akan bolehnya, namun bukan pada dzhohirnya” [Mawahibul Jaliil 5/23].

Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi berkata : “Abu Yuusuf bertanya kepada Abu Hanifah rahimahullah- tentang seseorang yang memegang kemaluan istrinya, dan sang istri yang menyentuh kemaluan suaminya agar tergerak syahwatnya kepada sang istri, maka apakah menurut anda bermasalah?. Abu Hanifah berkata, “Tidak mengapa, dan aku berharap besar pahalanya” [Haasyiat Ibni ‘Aabidiin 6/367, lihat juga Al-Bahr Ar-Raaiq syarh Kanz Ad-Daqoiq 8/220, Tabyiinul Haqo’iq 6/19]

Wallahu A'lam Bis Showab,,,

---- IKLAN TENGAH ARTIKEL DISINI ----

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya