Rabu, 14 November 2018

Hikmah Dibalik Musibah

Sobat Pena Muslim, pernahkah kita mendapatkan musibah? 

Musibah bagi orang yang beriman merupakan salah satu bukti cinta Allah kepada Hamba-Nya. Beda halnya dengan orang yang mungkin akan kufur terhadap nikmat Allah, kenapa ? Karena menurut mereka Allah itu gak sayang dengan mereka, Allah itu pilih kasih dan lain sebagainya. 

akan tetapi Muhsibah bagi orang yang beriman adalah rasa kasih sayang Allah terhadap orang-orang yang beriman. Yang mana apabila ia sabar atas musibah yang menimpa maka Pahala yang besar bagi siapa yang bersabar atas musibah yang menimpa. Ada yang berkata :

الجزاء مع عظم البلاء

"Pahala itu seberapa besar cobaan yang ia dapatkan"

Dan ketika kita ditimpa suatu musibah, maka kata Allah adalah apabila kalian tertimpa musibah maka katakanlah إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ


"ketika mereka ditimpa oleh suatu kesengsaraan/musibah, katakan, 'Sesungguhnya kita adalah milik Tuhan, dan kepada-Nya kita mengembalikannya.Itu muncul dalam" (Surar Al- Baqarah :156)

Adapun musibah yang mungkin kita rasakan adalah pasti ada hikmah dibalik musibah itu sendiri. Kita hanya bisa Intropeksi diri atau bermuhasabah diri kita apakah dengan adanya musibah ini mungkin kita pernah melakukan apa yng membuat Allah cemburu kepada kita.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ المُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah ketika seorang mu’min melanggar apa yang Allah larang” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari 7/45 nomor hadits (5223), Muslim 8/101 nomor hadits (2761)

PENJELASAN HADITS

Jika engkau mengatakan : “Allah punya sifat cemburu” maka sebagian orang akan menyanggah :”kenapa engkau mengatakan Allah cemburu ? berarti Allah subhanahu wa ta’ala  sama dengan manusia ?”

Ketahuilah wahai saudaraku –baarakallahu fiikum- bahwa Allah punya sifat cemburu yang sesuai dengan kemuliaan-Nya. Namun sifat cemburu Allah tidak boleh disamakan dengan sifat cemburu makhluk-Nya. Sebagaimana sifat Allah yang lainnya. Kesamaan nama tidak harus menjadikan kesamaan hakikat. Jadi walaupun seorang hamba punya sifat cemburu dan Allah juga punya sifat cemburu namun hakikat dari dua sifat itu berbeda karena beda penyandarannya. Satu disandarkan kepada Allah azza wa jalla dan dan yang satu disandarkan kepada makhluk.





Hikmah Dibalik Musibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik suatu musibah. Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu sesuai dengan tingkatan keimanan mereka, mereka malah memperoleh ujian lebih berat.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati, lisan atau pun anggota badan.

Ya Allah.... jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang selalu ridho dengan taqdirMu.

Wallahu A'lam Bis Showab,,,
---- IKLAN TENGAH ARTIKEL DISINI ----

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya